Senin, 09 April 2012

FOTO: Korut Bersiap Luncurkan Roket Unha-3

 
Korea Utara mengundang para jurnalis untuk meninjau persiapan peluncuran roket Unha-3 di barat laut Ibukota Pyongyang, Minggu 8 April 2012. Roket itu akan meluncur antara 12 hingga 16 April 2012.
Korut mengklaim roket itu akan membawa satelit cuaca atau pemantau Bumi. Namun, AS dan Jepang serta Korea Selatan curiga peluncuran itu bagian dari ujicoba rudal balistik, yang bisa diisi hulu ledak nuklir.
Bahkan, Jepang sudah menyatakan tidak segan-segan bakal menembak roket dari Korut bila melintas wilayah udaranya.

Senin, 26 Maret 2012

Saudara Teroris "Merah" Diduga Bersekongkol

Saudara lelaki Mohammed Merah didakwa karena diduga menjadi kaki tangan dalam pembunuhan tujuh orang di Kota Toulouse, Prancis. Dia ditahan pada Selasa pekan lalu, di tengah serbuan pasukan anti teror ke apartemen Merah.

Menurut stasiun berita CNN, 25 Maret 2012, Abdelkader Merah, awalnya ditahan bersama dengan ibunya dan kekasihnya, namun hanya dia yang didakwa. Dia dianggap berkonspirasi dengan saudaranya dalam mempersiapkan aksi teror dan perampokan, ujar jaksa penuntut.

Menurut stasiun televisi i-tele, Abdelkader sudah dipindahkan dari Toulouse ke markas intelijen Prancis, DCRI, di Levallois-Perret, dekat Paris. Dia diduga terlibat dalam pembunuhan tiga orang tentara, seorang rabbi, dan tiga bocah berusia masing-masing 4, 5 dan 7 tahun, yang dilakukan oleh Mohammed Merah.

Menurut penyidik, Mohammed Merah merekam seluruh aksi pembunuhan ke tujuh orang tersebut. Mohammed sendiri tewas di tangan pasukan anti teror Prancis dalam adegan penyerangan selama 36 jam pekan lalu.

Menurut juru bicara jaksa penuntut, Elizabeth Allanic, pada otopsi diketahui Mohammed tewas dengan lebih dari 20 peluru di tubuhnya. Allanic mengatakan, peluru kebanyakan bersarang di tangan dan kaki. Luka terparah terdapat di pelipis kiri dan perutnya.

Dengan terbunuhnya Mohammed Merah, Kementerian Dalam Negeri Prancis mencabut status darurat Starlet, atau status darurat tertinggi dalam aksi pemberantasan teror di Kota Toulouse.

Rabu, 21 Maret 2012

Kemlu: Polisi Prancis Investigasi Ledakan di Dekat KBRI Paris

 
Ledakan yang terjadi di KBRI Paris bukan yang pertama. Ledakan serupa pernah terjadi pada 2004 lalu. Ledakan yang terjadi kali ini di perempatan jalan dekat KBRI. Kaca-kaca gedung pecah, pihak KBRI pun menyerahkan sepenuhnya penanganan kepada kepolisian Prancis.

"Insiden ini sedang diinvestigasi oleh pihak kepolisian Paris. Hingga saat ini belum bisa dipastikan sasaran dari ledakan tersebut," tulis siaran pers Kemlu dalam surat elektronik, Rabu (21/3/2012).

Ledakan terjadi pada pagi pukul 05.15 waktu Paris atau pukul 11.15 WIB. Tidak ada korban jiwa dari insiden ini. Selain kaca gedung KBRI Paris yang pecah-pecah akibat ledakan itu, kerusakan serupa terjadi di sekitar lokasi kejadian.

"Menlu (Marty Natalegawa) telah berbicara dengan Dubes RI di Paris dan meminta kepada seluruh staf KBRI Paris dan warga negara Indonesia lainnya untuk meningkatkan kewaspadaannya. KBRI Paris juga diminta untuk terus memantau keadaan warga negara Indonesia di Prancis," tulis siaran pers itu.

Selasa, 20 Maret 2012

21-3-1984: Tabrakan Kapal Militer AS & Soviet

 
Pada 28 tahun yang lalu, kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), USS Kitty Hawk (CV-63) bertabrakan dengan sebuah kapal selam tempur Uni Soviet, Victor Class (Project 671). Insiden itu berlangsung di Laut Jepang (Laut Timur).

Majalah Time edisi 2 April 1984 mengungkapkan, kendati tak ada korban jiwa, tabrakan itu memiliki risiko tinggi mengingat kapal selam Soviet menggunakan tenaga nuklir dan membawa torpedo berhulu ledak nuklir. Kapal USS Kitty Hawk saat itu juga membawa senjata nuklir.   

Tabrakan terjadi saat USS Kitty Hawk baru menjalani latihan tempur dengan kode Team Spirit. Rupanya, kapal induk itu sudah diintai berhari-hari oleh kapal selam Soviet.
Kendati tabrakan itu tidak menimbulkan kerusakan parah, USS Kitty Hawk harus diperbaiki di pangkalan militer AS di Teluk Subic, Filipina. Rupanya terdapat sebuah sekrup dari kapal selam Soviet yang tersangkut di lambung kapal induk itu. 
    
Setelah melaut selama lebih dari 47 tahun, kapal induk yang mampu membawa 85 unit pesawat dan 5.624 awak itu memasuki masa purnabakti dan tak lagi digunakan sejak 31 Januari 2009. Peran Kitty Hawk selanjutnya diganti oleh kapal induk baru, USS George H.W. Bush.

Suster Bunuh 16 Pasiennya karena Kasihan

 
Dua orang suster pria di Uruguay didakwa atas kasus pembunuhan 16 orang pasien lanjut usia. Menurut pengakuan keduanya, mereka membunuh atas dasar belas kasihan kepada para pasien penderita penyakit berat.
Dilansir CNN, 20 Maret 2012, seorang di antaranya didakwa atas lima pembunuhan, seorang lainnya membunuh 11 orang. Menurut hakim Rolando Vomero, Marcelo Pereira, 38, dan Ariel Acevedo, 49, mengaku melakukan semuanya sendiri dan sadar betul apa yang mereka perbuat.

Menurut pengacara, kedua suster, masing-masing berusia 39 dan 46 tahun, membunuh karena tidak ingin melihat pasien mereka menderita. "Klien saya melakukannya dengan sadar. Di hadapan hakim dan jaksa dia mengaku melakukannya karena rasa kasihan," kata pengacara Santiago Clavijo.

Pembunuhan ini terjadi di rumah sakit Maciel dan La Espanola di Montevideo. Salah seorang tersangka bekerja di bagian bedah syaraf, seorang lainnya di bagian kardiologi. Pembunuhan terungkap setelah ditemukannya kematian yang mencurigakan selama beberapa minggu di dua rumah sakit tersebut.

Berdasarkan bukti-bukti, keduanya kemudian ditahan. Seorang suster wanita juga ditahan, karena diduga sebagai kaki tangan. Penyidik mengatakan, suster itu membunuh pasiennya dengan menyuntikkan morfin dosis tinggi atau dengan memasukkan udara di aliran darah mereka.

Sebuah koran lokal, dilaporkan Reuters, menuliskan bahwa kedua suster ini diduga juga berada dibalik kematian 200 pasien lainnya.

Sarkozy Tetapkan Prancis Dalam Status Darurat

Pasca penembakan sekolah Yahudi di Toulouse, Prancis, Presiden Nicolas Sarkozy menetapkan negara dalam status darurat. Dia juga memerintahkan pencarian besar-besaran pelaku penembakan yang hingga kini belum diketahui identitasnya.

Situasi darurat ditetapkan Sarkozy sesaat setelah penembakan yang terjadi di sekolah Ozar Hatorah, Senin waktu setempat, menewaskan empat orang, tiga di antaranya anak-anak. Dilansir The New York Times, Selasa 20 Maret 2012, situasi darurat yang diterapkan berada di tingkat "Scarlet", atau tingkat tertinggi di skema anti teror Prancis.

Dalam status darurat tingkat Scarlet, tentara memiliki kuasa penuh atas keamanan wilayah. Mereka berhak menutup beberapa fasilitas publik, seperti stasiun kereta api dan jalan-jalan.

Tentara dan pasukan keamanan diturunkan di beberapa lokasi di Toulouse untuk mencari tersangka. BBC menuliskan, pencarian orang kali ini adalah salah satu yang terbesar dalam sejarah Prancis.

Sarkozy memerintahkan penjagaan ketat oleh paramiliter dan pasukan anti huru-hara di berbagai rumah ibadah, di antaranya sinagoga dan mesjid-mesjid di Prancis, sampai pelaku penembakan tertangkap.

Penembakan terjadi pada Senin pagi waktu setempat, saat para murid berkumpul di depan sekolah. Pelaku yang menggunakan skuter beraksi sendiri dan menembak membabi buta, menewaskan seorang rabbi, dua anaknya yang berusia 3 dan 6 tahun dan seorang gadis berusia antara 8-10 tahun.

Korban rencananya akan dimakamkan di Israel. "Seluruh korban tewas memiliki kewarganegaraan ganda Prancis dan Israel, dan Israel akan menjadi tempat peristirahatan terakhir mereka," kata Kementerian Luar Negeri Israel dalam sebuah pernyataan, dilansir CNN.

Kisah Budak di Mauritania, Dianggap Binatang

 
Mauritania, sebuah negeri dengan lautan pasir menyembunyikan sebuah rahasia: praktek perbudakan. Di mana langkah pertama menuju kebebasan adalah ketika seorang budak menyadari bahwa ia diperbudak.

Jika klaim ini terlalu bombastis, anggap saja negara berpenduduk 3,4 juta orang ini adalah negara terakhir di dunia yang berusaha menghapuskan praktek perbudakan.

Berdasarkan laporan PBB, pada 1981, sebanyak 10 hingga 20 persen penduduk Mauritania hidup dalam perbudakan. Ironisnya, praktek ini disinyalir masih ada meskipun tahun 2007 sudah dibuat UU yang memidanakan perbudakan. Dilansir CNN, hingga saat ini baru ada satu kasus yang ditangani.

Bagi para budak, perbudakan bagai mata rantai penyiksa fisik dan mental yang tidak bisa dengan mudah diputus. Tengok saja kisah pilu Moulkheir Mint Yarba, seorang budak yang berhasil melarikan diri.

Moulkheir berkali-kali diperkosa pemiliknya sehingga melahirkan banyak anak, yang semuanya juga menjadi budak. Dia sendiri tidak pernah melawan karena menganggap pemiliknya paling tahu apa yang terbaik baginya. "Saya merasa menjadi binatang yang hidup bersama binatang," ujarnya.

Kebebasan itu datang tatkala Moulkheir bertemu dengan pasangan 'aneh' Boubacar Messaoud dan Abdel Nasser Ould Ethmane. Disebut 'aneh', karena Boubacar adalah mantan budak, sementara Abdel adalah pemilik budak yang kini beralih menjadi pembebas budak.

Terlahir sebagai pria kaya, Abdel bisa mendapatkan budak dengan mudah, bahkan sebagai kado. Nuraninya justru terketuk setelah ia memiliki banyak budak. Adalah sebaris kalimat 'Manusia terlahir bebas dan setara dalam hak' dari komik favoritnya, Asterix, yang menyadarkannya.

Hati kecil Abdel mengatakan ada yang salah, entah itu komik favoritnya ataupun tradisi perbudakan yang berlaku di Mauritania. Belakangan dia baru menyadari, perbudakan adalah hal yang salah sehingga dia pun segera membebaskan budaknya. "Namun di luar dugaan, mereka malah tidak ingin dibebaskan, atau tidak mengerti apa arti kebebasan," kenangnya.

Abdel lalu bertemu Boubacar, mantan budak yang berhasil melarikan diri dan 'bebas' dan dapat mengenyam pendidikan yang layak. Keduanya lantas berkolaborasi mendirikan SOS Slaves untuk memerangi praktek perbudakan di Mauritania.

Perjuangan SOS Slaves memang tidak mudah. Namun diakui, keberanian para mantan budak untuk menuturkan kisah mereka, merupakan sebuah kemenangan tersendiri karena bisa menjadi awal yang bagus menuju kemerdekaan sebagai manusia.

Ada beberapa hal yang turut menjadi faktor masih suburnya perbudakan di Mauritania hingga 2012 ini. Di antaranya, rasisme bahwa orang kulit terang lebih tinggi derajatnya, kemiskinan, kurangnya komitmen pemerintah, serta kurangnya edukasi karena perbudakan cenderung dianggap sebagai sesuatu yang lazim.